Usia 103 Tahun Tak Menghalangi Semangat Mbah Mardijiyono untuk Menunaikan Ibadah Haji


Madinah – Di usia yang telah menembus satu abad, semangat Mardijiyono Karto Sentono (103 tahun) untuk menunaikan ibadah di Tanah Suci tetap menyala. Jemaah haji tertua asal Bantul, Yogyakarta ini baru saja mendarat di Madinah dengan tujuan sederhana namun mulia: beribadah. Ketika ditemui di ruang tunggu Bandara Internasional Pangeran Mohammad Bin Abdul Aziz (AMAA), Mbah Mardijiyono menuturkan, “Kula kepengen ibadah” (saya hanya ingin beribadah). Ia tiba di Kota Nabi dengan bantuan kursi roda, namun itu tidak mengurangi keinginannya untuk merasakan keagungan di Tanah Suci.

Kondisi fisiknya yang sudah keriput tidak menghilangkan senyum syukur yang terpancar dari wajahnya. Mbah Mardijiyono, yang berasal dari Randusari, Karanganom, Bantul, merasa sangat bersyukur dapat menginjakkan kaki di Tanah Suci pada usia yang sudah lebih dari 100 tahun. “Saya ini sudah 103 tahun,” ungkapnya, bersahaja. Remarkably, meskipun usianya terbilang lanjut, ia tetap dalam kondisi fisik yang luar biasa untuk usianya. Meskipun membutuhkan alat bantu jalan setelah terjatuh di kamar mandi pada tahun 2022 lalu, Mbah Mardijiyono masih tampak bugar dan bersemangat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat tiba di Bandara AMAA Madinah, petugas haji dari Daker Bandara bersama Ibnu Khaldun dari KBIHU Muslimat NU HDWR sigap memberikan bantuan. Mereka bahu membahu menjaga dan menggendong kakek yang telah berusia lanjut ini demi kenyamanannya. Mbah Mardijiyono termasuk dalam kelompok 9 Embarkasi Yogyakarta (YIA). Ketua Kloter 9 YIA, Edy Purwanto, mengonfirmasi bahwa Mbah Mardijiyono adalah jemaah tertua di rombongannya yang tetap memiliki kemampuan untuk menjalani haji. “Walaupun usianya seabad lebih, beliau istitha’ah dan dalam kondisi sehat,” kata Edy.

Baca juga:  Kemenag Usulkan Penurunan BPIH Sebesar Rp 1 Juta: Inilah Biaya Haji 2026 yang Perlu Dibayar oleh Jemaah

Kehadiran Mbah Mardijiyono memberikan semangat tersendiri bagi semua petugas haji. Senyum ramah yang selalu terpancar dari wajahnya membuat para petugas terinspirasi untuk memberikan pelayanan terbaik. Edy menambahkan, “Mbah Mardijiyono ini selalu tersenyum, bersemangat. Inilah yang membangkitkan motivasi kami untuk mengantarkan dan menjaga beliau menuju ke Tanah Suci.”

Impian Mbah Mardijiyono yang telah lama terpendam untuk melaksanakan rukun Islam kelima kini sudah di depan mata. Kisah hidupnya adalah bukti nyata bahwa, ketika niat sudah bulat, usia hanyalah angka di hadapan panggilan Sang Pencipta. Melaksanakan ibadah haji merupakan impian setiap Muslim, dan Mbah Mardijiyono berhasil membuktikan bahwa keberanian dan niat yang tulus dapat membawa seseorang menjalankannya, tidak peduli usia.

Mbah Mardijiyono bukan hanya sekedar jemaah biasa; ia merupakan simbol harapan dan ketekunan. Dalam dunia di mana kesibukan dan tantangan sering kali membuat kita melupakan tujuan hidup yang lebih besar, kisah beliau mengingatkan kita akan arti sejati dari ibadah dan ketekunan. Dalam perjalanan menuju Manasik Haji, kita diingatkan untuk tidak hanya fokus pada ritus ibadah, tetapi juga esensi yang mendasarinya—konsistensi dalam berdoa, bersyukur, dan menjalani kehidupan yang bermakna.

Di setiap langkah perjalanan, Mbah Mardijiyono menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan tidak terukur dari usia, tetapi dari niat dan tindakan kita. Para jemaah muda mungkin bisa belajar banyak dari ketekunan dan semangat beliau. Tindakan sederhana, seperti senyuman dan rasa syukur, dapat memberikan dampak luar biasa bagi orang lain, bahkan bagi mereka yang merawat kita.

Setelah tiba di Tanah Suci, setiap momen yang dijalani bisa menjadi berharga. Dari tawaf di Ka’bah hingga berdoa di Masjid Nabawi, setiap aktivitas memiliki makna tersendiri. Semangat Mbah Mardijiyono menjadi pengingat bagi kita untuk memanfaatkan setiap kesempatan ibadah tersebut dengan penuh kesadaran. Haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga spiritual yang mengubah perspektif terhadap kehidupan, sebagai sarana untuk kembali kepada fitrah dan menyatukan hati dengan Sang Pencipta.

Baca juga:  Merapat! Lowongan di BP Haji Bisa untuk Nonmuslim

Ritual-ritual yang dijalani dalam haji bukan hanya membahas aspek fisik, tetapi juga melibatkan perubahan mental dan spiritual. Ketika kita melihat Mbah Mardijiyono, kita diingatkan bahwa meskipun tubuhnya mulai lemah, semangat spiritualnya tetap membara. Setiap jemaah haji yang berpartisipasi dalam ritual ini diundang untuk meneliti kembali niat dan komitmen mereka. Hal ini menciptakan adanya rasa kolektivitas dan kebersamaan yang mendalam di antara para jemaah, memberikan kekuatan untuk menjalani perjalanan iman ini dengan tulus.

Tidak hanya bagi Mbah Mardijiyono, tetapi juga bagi semuanya—haji adalah perayaan keimanan, tempat bertemunya berbagai latar belakang yang bersatu dalam tujuan yang sama. Dalam perjalanan ini, banyak cerita lain yang mungkin juga terungkap, yang menjadikan setiap jemaah sebagai bagian dari narasi yang lebih besar. Setiap individu memiliki cerita dan tujuan yang berbeda-beda, namun semuanya menyatu dalam satu panggilan ilahi.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengingat bahwa proses ibadah haji adalah momen untuk refleksi pribadi. Ini adalah waktu untuk memperbarui komitmen kita kepada Tuhan, menciptakan kembali hubungan dengan diri sendiri, dan memperbaiki interaksi kita dengan sesama manusia. Kebangkitan spiritual yang dicapai melalui perjalanan ini adalah sesuatu yang tidak ternilai harganya.

Seiring berjalannya waktu, kita harus menghargai dan menghormati kisah-kisah seperti Mbah Mardijiyono, karena mereka menunjukkan bahwa semangat manusia tidak mengenal batasan. Siapa pun, tidak peduli berapa usia atau bagaimana kondisi fisiknya, dapat mendorong diri untuk mencapai hal yang lebih besar sebagai bagian dari ibadah kepada Sang Pencipta. Ini semua adalah bagian dari takdir kita dalam mengarungi samudera kehidupan yang dalam ini.

Siap untuk Haji yang Tidak Terlupakan?

Kunjungi kami di sini untuk memulai perjalanan haji Anda dan menciptakan kenangan yang akan terukir selamanya.

Baca juga:  Hindari Kehadiran Jemaah Haji RI di Mina Jadid, Bisa Membuat Presiden Marah

Source link

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top