Jakarta – Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi baru-baru ini mengumumkan pemenang penghargaan bergengsi Labbaytum Award. Penghargaan ini diberikan setiap tahun sebagai bentuk apresiasi kepada negara dan lembaga yang menunjukkan kinerja terbaik dalam memberikan pelayanan bagi para jemaah haji. Acara penyerahan penghargaan ini dilaksanakan di gedung Kementerian Haji dan Umrah di Makkah pada malam hari Jumat, 29 Mei 2026. Menurut informasi dari situs resmi Asosiasi Penyelenggara Haji dan Umrah (AMPHURI), Labbaytum Award diberikan kepada negara-negara yang memiliki performa pelayanan jemaah terbaik di seluruh dunia.
Labbaytum Award: Mendorong Pelayanan Haji yang Lebih Baik
Labbaytum Award bukan hanya sekadar penghargaan, tetapi juga merupakan bagian dari evaluasi sistem pelayanan haji yang diterapkan oleh Arab Saudi dalam upaya mencapai visi transformasi perhajian dalam Visi Saudi 2030. Melalui penghargaan ini, Arab Saudi berusaha mendorong budaya kompetisi yang sehat di antara negara-negara penyelenggara haji, guna meningkatkan kualitas layanan yang diberikan kepada jemaah di tingkat global.
Salah satu yang menarik adalah bahwa Malaysia, negara tetangga Indonesia, berhasil meraih penghargaan ini sebagai pengelola haji terbaik. Di sisi lain, Indonesia tidak termasuk dalam daftar pemenang tahun ini, yang menjadi sorotan banyak pihak.
Mengapa Indonesia Tidak Mendapatkan Labbaytum Award?
Muchlis M Hanafi, Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kementerian Agama RI tahun 2025, menjelaskan bahwa alasan ketidakhadiran Indonesia dalam daftar penerima penghargaan Labbaytum Award 2026 disebabkan oleh pergeseran dalam cara penilaian dan ukuran keberhasilan penyelenggaraan haji yang diterapkan oleh Saudi. Menurut Muchlis, pada tahun 2025, Indonesia juga tidak mendapatkan penghargaan Labbaytum. Namun, survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia tahun itu mencapai 88,46, yang masuk dalam kategori sangat memuaskan.
Dengan kuota keberangkatan sebanyak 221.000 jemaah, penyelenggaraan haji dari Indonesia merupakan salah satu operasi pelayanan publik terbesar di dunia. Absenya Indonesia dari Labbaytum Award tidak serta-merta menunjukkan bahwa kualitas layanan haji yang diberikan kurang baik.
Muchlis menjelaskan bahwa selama ini keberhasilan penyelenggaraan haji lebih banyak diukur dari tingkat kepuasan jemaah dan kelancaran operasional, sementara Saudi kini melihat keseluruhan ekosistem tata kelola haji. Penilaian ini mencakup berbagai aspek, mulai dari perencanaan, kepatuhan terhadap regulasi, integrasi layanan, hingga kemampuan berinovasi dan menerapkan transformasi digital.
Dia juga menambahkan bahwa Indonesia selama ini mengukur kesuksesan haji dari perspektif domestik, dengan fokus pada kepuasan jemaah, ketersediaan layanan, transportasi, dan hal-hal lain yang bersifat operasional. Sebaliknya, Saudi kini lebih memperhatikan penilaian keseluruhan proses tata kelola haji dari hulu hingga hilir.
“Penghargaan Labbaytum lahir dari paradigma baru ini. Indonesia sebenarnya memiliki ukuran keberhasilan yang lebih luas melalui konsep Tri Sukses Haji, yaitu sukses ritual, ekosistem ekonomi haji, serta sukses dalam peradaban dan keadaban jemaah,” jelas Muchlis.
Meskipun demikian, ia menekankan bahwa absennya Indonesia dari penghargaan ini seharusnya tidak disikapi secara defensif. Sebaliknya, ini harus menjadi momen untuk merefleksikan evaluasi terhadap standar global dalam penyelenggaraan haji.
“Indonesia tidak kekurangan pengalaman atau prestasi. Yang kita butuhkan adalah kemampuan untuk menerjemahkan pengalaman dan prestasi tersebut ke dalam standar tata kelola baru yang saat ini menjadi ukuran keberhasilan menyelenggarakan haji di tingkat dunia,” tambahnya.
Adapun Zaky Zakariya Anshary, Sekretaris Jenderal AMPHURI, mengatakan bahwa salah satu faktor kemungkinan mengapa Indonesia belum menerima penghargaan Labbaytum adalah tingginya jumlah jemaah lanjut usia dan risiko kesehatan yang terkait. Angka perawatan dan kematian jemaah Indonesia juga masih relatif tinggi dibandingkan negara lain. Selain itu, kompleksitas dalam pengelolaan kuota, variasi kualitas pelayanan di berbagai daerah dan embarkasi, serta tingkat kepuasan jemaah yang masih perlu ditingkatkan secara merata juga menjadi kontributor.
Upaya Meningkatkan Kualitas Pelayanan Haji
Dengan ketidakberhasilannya dalam meraih Labbaytum Award, pihak berwenang di Indonesia kini harus mengambil langkah konkret untuk memahami dan memenuhi standar yang ditetapkan oleh Arab Saudi. Ini termasuk:
-
Meningkatkan Kualitas Pelayanan: Melakukan penilaian menyeluruh terhadap layanan yang diberikan, berdasarkan umpan balik dari jemaah dan hasil survei kepuasan.
-
Menerapkan Inovasi: Mengadopsi teknologi baru untuk mempermudah proses penyelenggaraan haji. Hal ini termasuk sistem pendaftaran online yang lebih baik dan platform komunikasi yang efisien antara jemaah dan penyelenggara.
-
Pelatihan dan Edukasi: Meningkatkan pelatihan bagi petugas haji dan pihak terkait untuk mengenalkan standar pelayanan yang lebih tinggi dan memahami harapan jemaah.
-
Peningkatan Infrastruktur: Membangun dan memperbarui infrastruktur pendukung yang diperlukan untuk memastikan kenyamanan dan keamanan jemaah selama menjalankan ibadah haji.
-
Monitoring dan Evaluasi Berkala: Melakukan evaluasi berkala terhadap seluruh proses pelayanan haji, sehingga mampu beradaptasi dengan perubahan yang diperlukan untuk memperbaiki layanan yang ada.
Dengan pendekatan yang strategis dan berfokus pada kualitas, Indonesia memiliki peluang besar untuk kembali mendapatkan pengakuan internasional melalui Labbaytum Award serta meningkatkan pengalaman jemaah haji.
Kesimpulan
Absenya Indonesia dari Labbaytum Award bisa disikapi sebagai tantangan untuk berbenah dan berinovasi dalam penyelenggaraan haji. Meningkatkan kualitas layanan, mengadopsi teknologi baru, serta memahami standar global adalah langkah penting untuk meraih penghargaan di masa mendatang. Melalui langkah-langkah ini, diharapkan Indonesia dapat menjadi salah satu negara dengan layanan haji yang terbaik di dunia.
Siap untuk Haji yang Tidak Terlupakan?
Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut dan mempersiapkan perjalanan Anda!



