Haji Mabrur atau Haji yang Ditolak? Kenali Karakteristiknya Sejak di Tanah Suci


Jakarta

Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang menjadi tujuan setiap Muslim yang beriman. Ini bukan hanya sekadar perjalanan fisik ke Tanah Suci, tetapi juga merupakan perjalanan spiritual yang sarat dengan makna dan harapan. Ketika kesempatan untuk berangkat haji tiba, momen ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, penuh dengan kesungguhan dan keikhlasan. Tiap jemaah berharap ibadahnya diterima dan kembali dengan predikat haji mabrur, sebuah pengharapan yang teramat tinggi.

Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan haji mabrur itu? Dan bagaimana kita membedakannya dengan haji mardud? Penting bagi setiap jemaah untuk mengenali ciri-ciri kedua haji tersebut agar dapat menjalankan ibadah ini dengan sebaik-baiknya.

Ciri-ciri Haji Mabrur

Haji mabrur adalah ibadah haji yang diterima oleh Allah SWT, yang dilaksanakan sesuai dengan tuntunan syariat. Maka dari itu, jemaah yang berangkat haji mabrur harus terhindar dari perbuatan maksiat dan diharapkan akan membawa perubahan positif dalam diri setelah menyelesaikan rangkaian ibadah haji.

M. Syukron Maksum dalam buku Bimbingan Lengkap Haji dan Umrah menuturkan bahwa Nabi Muhammad SAW menjelaskan secara langsung tentang ciri-ciri haji mabrur. Sebuah hadits berbunyi:

قالوا: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ؟ قال: “إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ

Artinya: Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur?” Rasulullah menjawab, “Memberikan makanan dan menebarkan kedamaian.”

Berikut adalah tiga ciri haji mabrur yang bisa kita identifikasi:

1. Santun dalam Bertutur Kata (Thayyibul Kalam)

Santun dalam bertutur kata merupakan ciri utama dari haji mabrur. Ini terlihat dari sikap menjaga ucapan, menghindari perkataan kasar, serta membiasakan berbicara dengan lembut kepada sesama. Contohnya, selama berada di Tanah Suci:

  • Mengucapkan kata-kata lembut dan penuh kesabaran saat menghadapi keramaian, seperti tetap bersikap sopan saat antre atau berdesakan dengan jemaah lain.
  • Membiasakan mengucapkan doa, dzikir, dan salam kepada sesama jemaah untuk menyebarkan kebaikan dan menjaga lisan tetap dalam hal-hal positif.
Baca juga:  Indonesia Resmi Membentuk Kementerian Haji dan Umrah

2. Menebarkan Kedamaian (Ifsya’us Salam)

Ciri haji mabrur berikutnya adalah menebarkan kedamaian. Hal ini tercermin dari sikap jemaah yang membawa ketenangan bagi orang lain. Ini diwujudkan dengan sering mengucapkan salam, menjaga sikap, dan menghindari konflik selama berada di Tanah Suci. Beberapa contoh menebarkan kedamaian di Tanah Suci antara lain:

  • Mengucapkan salam kepada jemaah dari berbagai negara saat bertemu sebagai bentuk mempererat ukhuwah Islamiyah.
  • Menahan emosi dan menghindari perselisihan, misalnya tetap sabar dan tidak marah ketika terjadi dorong-dorongan di area ibadah.

3. Memiliki Kepedulian Sosial (Ith’amut Tha’am)

Kepedulian sosial juga menjadi indikator penting dari haji mabrur. Ini tercermin dari kesediaan untuk berbagi rezeki, membantu jemaah yang membutuhkan, serta menumbuhkan empati selama berada di Tanah Suci. Contoh sikap ini di Tanah Suci antara lain:

  • Membagikan makanan atau minuman kepada jemaah lain yang kelelahan setelah beribadah.
  • Menyisihkan rezeki untuk bersedekah, misalnya memberikan makanan kepada jemaah lain yang membutuhkan di sekitar Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.

Pengertian Haji Mardud dan Ciri-cirinya

Mengacu pada buku Yang Tersembunyi di Balik Ritual Haji karya M. Sadat Ismail, istilah haji mardud berasal dari kata ‘radda-yaruddu’, yang berarti menolak atau mengembalikan. Dalam konteks ibadah, haji mardud merujuk pada ibadah haji yang tidak diterima oleh Allah SWT.

Ibadah haji bisa menjadi tidak diterima jika tercampur dengan hal-hal yang diharamkan atau perbuatan dosa. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah, mayoritas jemaah tidak sadar bahwa perbuatan mereka bisa membawa dampak pada penerimaan haji mereka. Jika seseorang berangkat dengan niat yang buruk atau menggunakan harta yang haram, maka ibadahnya akan tertolak.

Haditsnya berbunyi:

Baca juga:  Apa yang Dimaksud dengan Haji Furoda? Perbedaannya dengan Haji Khusus.

“Barang siapa datang ke Baitullah dengan niat yang salah, maka ia akan dinyatakan tidak taat kepada Allah SWT. Jika ia pergi dengan kendaraan dan berkata, ‘Labbaika Allahumma Labbaik’, maka malaikat dari langit berseru, ‘Tidak ada sambutan untukmu, dan tidak ada kebahagiaan bagimu. Perbuatanmu haram, pakaianmu haram, dan perbekalanmu haram. Pulanglah kamu membawa haji mardud, bukan haji mabrur, dan bergembiralah dengan hajimu yang buruk.'”

Di sisi lain, jika seseorang melaksanakan haji dengan harta yang halal dan memiliki niat yang tulus, malaikat akan menjawab: ‘Kami menyambutmu dan semoga kebahagiaan menyertaimu. Kamu wajib mendapatkan apa yang kamu cintai.’ Hal ini menunjukkan bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima, sedangkan haji mardud adalah haji yang ditolak.

Dari buku Ensiklopedia Haji & Umrah karya KH Ahmad Chodri Romli, beberapa ciri haji mardud antara lain:

  • Niat yang tidak lurus, seperti melakukan haji demi status sosial, riya, atau demi mendapatkan pujian.
  • Pelaksanaan manasik haji yang tidak sesuai syariat, seperti tidak mempelajari tata cara ibadah dengan baik.
  • Masih membawa kebiasaan buruk selama haji, seperti melakukan perbuatan maksiat.

Siap untuk Haji yang Tidak Terlupakan?

Kunjungi situs kami untuk informasi lebih lanjut dan persiapan haji yang sempurna. Yuk, buat perjalanan spiritual ini menjadi salah satu momen paling berkesan dalam hidup Anda!

Source link

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top