Ahmad Musyaddad: Suara Indonesia di Balik Pidato Masjidil Haram

Makkah – Ketika khatib Masjidil Haram memulai khutbahnya, suara Ahmad Musyaddad, seorang penerjemah yang berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat, juga terdengar. Namun, suaranya tidak berasal dari mimbar di depan Ka’bah, melainkan dari sebuah studio tersembunyi di lantai tiga kompleks Masjidil Haram. Di ruang inilah, Musyaddad menerjemahkan khutbah ke dalam bahasa Indonesia secara langsung. Penyampaian pesan dari para imam Masjidil Haram kepada umat Muslim di seluruh dunia, khususnya bagi masyarakat Indonesia, kini bisa lebih dimengerti berkat usaha Musyaddad dan timnya.

Sejak 2015, Musyaddad telah memegang amanah sebagai penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram. Selain itu, ia juga sering ditugaskan untuk menerjemahkan khutbah wukuf di Arafah, yang disiarkan dalam berbagai bahasa. Peran penting ini bukanlah hal yang didapatkan dengan mudah; di balik suara yang mengudara setiap pekan, tersimpan perjalanan panjang yang melibatkan pendidikan, ketekunan, dan dedikasi.

### Perjalanan Menuju Masjidil Haram

Perjalanan Ahmad Musyaddad menuju Masjidil Haram dimulai jauh dari kota suci tersebut. Ia menghabiskan masa remajanya di Pondok Pesantren Nurul Hakim di Lombok Barat, di mana ia mulai belajar bahasa Arab dan ilmu keislaman. Pendidikan di pesantren tersebut berlangsung selama enam tahun dan membekalinya dengan dasar-dasar keagamaan yang kuat.

Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren, Musyaddad merantau ke Jakarta untuk melanjutkan studi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA). Di sinilah ia menempuh pendidikan selama tujuh tahun, mempelajari bahasa Arab selama tiga tahun pertama, sebelum melanjutkan ke Fakultas Syariah selama empat tahun berikutnya. Usai menamatkan pendidikan sarjana, Musyaddad melanjutkan studi magister di Universitas Ibn Khaldun (UIKA) di Bogor dan berencana untuk meraih gelar doktor.

Baca juga:  Mulai Fase Kepulangan Haji 2026, Jemaah Diharapkan Patuh Terhadap Aturan Bagasi

Kesempatan yang mengubah hidup Musyaddad muncul pada 2014. Otoritas Masjidil Haram dan Masjid Nabawi meluncurkan program penerjemahan langsung khutbah ke berbagai bahasa, dan LIPIA menjadi mitra dalam proses seleksi. Musyaddad mengikuti seleksi dan berhasil menjadi salah satu dari lima penerjemah yang dipilih untuk bertugas, dengan tiga di antaranya ditempatkan di Masjidil Haram.

Sejak saat itu, Musyaddad resmi menjadi bagian dari layanan penerjemahan khutbah di dua masjid suci yang dikelola oleh Kerajaan Arab Saudi. Awalnya, layanan penerjemahan hanya tersedia dalam empat bahasa, yaitu Melayu, Inggris, Prancis, dan Urdu, namun seiring waktu, jumlah bahasa yang diterjemahkan meningkat pesat.

### Menghadapi Tantangan Sebagai Penerjemah

Menerjemahkan khutbah Masjidil Haram bukan sekadar mengalihkan kata-kata dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Proses ini melibatkan pemahaman mendalam tentang makna setiap kata dan konteks di baliknya. Setiap pekan, pekerjaan dimulai pada hari Rabu ketika khatib menyerahkan naskah khutbah yang akan disampaikan. Para penerjemah, termasuk Musyaddad, mulai mengalihbahasakan isi khutbah ke bahasa masing-masing, sebelum hasil terjemahan tersebut didiskusikan secara kolektif.

“Sebelum khutbah, kami mendiskusikan hasil terjemahan untuk memastikan tidak ada kesalahan,” jelas Musyaddad. Proses ini sangat penting untuk menjaga akurasi dan integritas makna yang ingin disampaikan oleh khatib kepada jamaah.

Sekitar satu hingga dua jam sebelum khutbah dimulai, setiap penerjemah menandatangani naskah yang telah disetujui. Begitu khutbah dimulai, mikrofon akan menyala, dan saat itulah Musyaddad dan timnya mulai membacakan terjemahan secara langsung. Jamaah yang berada di seluruh dunia dapat mengakses siaran ini melalui berbagai kanal resmi.

Musyaddad mengingat satu pengalaman yang sangat menegangkan, di mana naskah yang telah mereka siapkan harus ditinggalkan saat khatib mengubah isi khutbah saat-saat terakhir. “Itu adalah pengalaman yang sangat langka. Saya harus menerjemahkan secara langsung tanpa naskah,” kenangnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keterampilan dan kemampuan adaptasi seorang penerjemah.

Baca juga:  Puncak Haji 2026 Telah Usai, Arab Saudi Mulai Mengembalikan Jemaah

### Mengabdikan Ilmu di Tempat Suci

Bagi Musyaddad, pekerjaan ini lebih dari sekadar profesi; itu adalah bentuk pengabdian dan kesempatan untuk memberikan kontribusi positif bagi umat Muslim di seluruh dunia. “Rasa bahagia dan bangga selalu ada saat menerjemahkan di tempat yang paling mulia, yaitu Masjidil Haram,” katanya.

Sejak sebelum Ramadan, Musyaddad dan tim penerjemah telah memperluas tanggung jawab mereka untuk juga mencakup menerjemahkan khutbah dari Masjid Nabawi. Ini berarti dalam satu pekan, Musyaddad bisa menerjemahkan khutbah dari Makkah, dan di pekan berikutnya dari Madinah.

Bagi Musyaddad, penerjemah manusia tidak akan tergantikan oleh kecerdasan buatan (AI). Ia percaya bahwa meskipun teknologi semakin berkembang pesat, pemahaman mendalam tentang teks-teks keagamaan dan konteksnya tetap membutuhkan individu dengan kompetensi yang mumpuni. “Kecerdasan buatan masih memiliki keterbatasan dalam memahami istilah-istilah yang ada dalam teks keagamaan,” tuturnya.

### Menginspirasi Generasi Muda

Musyaddad tidak hanya ingin berkontribusi melalui pekerjaannya, tetapi juga berharap dapat menginspirasi generasi muda Indonesia untuk mempelajari bahasa Arab dan ilmu keislaman. “Saya harap anak muda tidak hanya belajar bahasa Arab, tetapi juga memperluas pengetahuan mereka dengan mengambil jurusan syariah atau tafsir,” ujarnya.

Dengan banyaknya peluang untuk menjadi penerjemah di masa sekarang, Musyaddad meyakini bahwa kebutuhan untuk menerjemahkan teks-teks keagamaan masih sangat tinggi dan memberikan peluang bagi generasi baru untuk berkontribusi.

“Kesempatan itu sering kali datang tiba-tiba, dan siapapun yang memiliki kemampuan dapat meraihnya,” pesan Musyaddad. Ia menekankan pentingnya mempersiapkan diri dengan pendidikan dan pengetahuan begitu kesempatan itu muncul.

### Mengakhiri Dengan Di Mangatakannya

Dari bangku pesantren di Lombok hingga studio kecil di Masjidil Haram, perjalanan Ahmad Musyaddad menggambarkan betapa besar peluang yang dihasilkan dari dedikasi dan usaha. Kini, ia menjadi ‘suara Indonesia’ dalam khutbah yang disampaikan di Masjidil Haram.

Baca juga:  Masjidil Haram Membuka Layanan Penitipan Anak 24 Jam Selama Ramadan 2026

Jika Anda tertarik untuk merasakan pengalaman spiritual yang mendalam dan perjalanan yang tidak akan terlupakan, mulailah dengan mempersiapkan diri menyambut haji Anda dengan baik.

Siap untuk Haji yang Tidak Terlupakan?

Kunjungi Kami untuk Informasi Selengkapnya!

Source link

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top